Monday, June 18, 2007

FOKUS PEKAN INI

Kegelisahan Inflasi Telah Pergi, Untuk Saat Ini

Pasar forex akan reli pekan ini terkait kekuatiran pada meningkatnya inflasi dan menyusutnya suku bunga, serta aktivitas merger dan akuisisi yang terus berkembang. Minimya kalender data minggu ini di kedua belahan Atlantik akan tetap menjaga prospek suku bunga pada garis depan kekuatiran investor, namun sinyal bahwa inflasi dalam pantauan, akan memberi sejumlah bantuan. Pada front ekonomi Eropa, fokus akan pada indeks sentimen ekonomi ZEW hari Selasa dan indeks Ifo pada iklim bisnis di hari Jumat.

"Saya tidak akan terkejut melihat pemulihan di pasar forex berlanjut, meskipun dipastikan tidak sama besarnya, karena kami memerlukan ekspektasi bahwa kebijakan bank sentral mereda, dan itu yang tidak kami lihat," ungkap Franz Wenzel, seorang strategist pada AXA Investment Managers di Paris. "Inflasi terpantau, khususnya di zona eropa, dan ini akan kembali terkontrol," ujar Wenzel. Pesatnya pertumbuhan ekonomi dan kokohnya inflasi telah mendorong bank sentral lintas Eropa untuk mengurangi lajunya ke arah naiknya suku bunga.

Perjalanan Bunga Belum Berakhir

ECB menaikkan suku bunga kuncinya minggu lalu sebesar seperempat persen poin menjadi 4 persen dan dikatakan ini akan berlanjut untuk memonitor inflasi secara cermat. Para analis mengatakan naiknya bunga akan meredakan musim M&A di Eropa, yang telah memicu reli dan menyeret pasar ke level tinggi sepanjang sejarah. Namun Wenzel menyebutkan ini masih akan sementara sebelum naiknya bunga mengakhiri penguatan pasar. "Suku bunga tinggi saat ini, namun fundamental untuk ekuiti masih utuh: makro- dan sektor pendapatan, masih kuat. Tidak ada kekuatiran yang muncul dari sisi tersebut," katanya.

"Di level-level ini bunga tidak sebagai rintangan dimana mereka akan keluar dari rel kereta pasar saham, dan diatas kami melihat bahwa likuiditas global masih cukup." Di Amerika Serikat, menguatnya angka catatan pada ekonomi A.S beberapa pekan silam, termasuk pesatnya retail sales, telah mengangkat tumbuhnya ekspektasi dan memicu sejumlah kekuatiran seputar inflasi. Di Eropa, fokus ekonomi tertuju ke Jerman, dengan indeks sentimen ekonomi ZEW diperkirakan di hari Selasa, fitur harga produsen bulanan Jerman di hari Rabu dan indeks Ifo pada iklim bisnis di hari Jumat. Para investor juga akan tetap memperhatikan data housing starts A.S untuk Mei di hari Selasa dan jobless claims mingguan di hari Kamis.

Aliran Dana Keluar Dari Jepang Terus Berlanjut, BOJ Menahan Bunga

Yen melemah ke level rendahnya dalam satu minggu terhadap euro karena spekulasi Gubernur Bank Jepang Toshihiko Fukui kemungkinan akan menaikkan bunga pinjaman secara bertahap setelah mempertahan bunga. Yen juga melemah terhadap New Zealand dan Aussie setelah pembuat kebijakan secara bulat memutuskan mempertahankan bunga 0.5 persen selama lima pertemuan.

Yen diperdagangkan dikisaran level rendah dalam 4 1/2-tahun terhadap dollar karena bunga pinjaman terendah di negara industri mendorong investor untuk mengambil pinjaman di Jepang dan membeli aset dengan yield lebih tinggi, yang disebut carry trades. ``Kami tetap berinvestasi di obligasi Eropa dan Obligasi Inggris yang masih cukup menarik,'' kata Kenichiro Ikezawa, yang mengelola dana senilai $1 miliar di Daiwa SB Investments Ltd. di Tokyo. ``Yen kemungkinan melemah terhadap mata uang utama dalam jangka pendek.''

``Keluarnya modal dari Jepang, sehubungan dengan investasi dana terus belanjut,'' kata Yuji Saito, kepala departemen penjualan valas di Societe Generale SA di Tokyo. ``Hal ini mendorong dollar.'' ``Yen sepertinya melemah,'' kata Katsunori Kitakura, kelapa dealer obligasi di Chuo Mitsui Trust & Banking Co. di Tokyo. ``Agak sedikit lebih awal BOJ mulai memaparkan prospek kenaikan bunga pada pertemuan hari Kamis'' ``Resiko untuk harga konsumen meningkat,'' kata Ray Attrill, direktur riset valas di 4Cast Ltd. di Sydney. ``Kemungkinan ada penjualan Treasury AS sementara ini dan kondisi ini kami perkirakan menjadi penopang bagi dollar.''

Sepekan Saham Asia – Terlihat Lebih Kuat, Kekhawatiran Yield Menurun

Pasar saham Asia tetap mengalami kenaikan minggu lalu setelah menguatnya yield obligasi, namun pasar lebih terfokus pada saham Korea yang terus mencetak rekornya. Di sisi lain para investor juga akan memantau kebijakan dari pemerintah China setelah perdana menteri Wen Jiabao mengingatkan bahwa pemerintah seyogyanya tetap konsisten menerapkan pengetatan kebijakan guna menghindari pertumbuhan yang overheating.

Ekonom dari Goldman Sachs Hong Liang mengungkapkan bahwa resiko dari penerapan kebijakan intensif berimbas satu atau dua bulan kedepan. Adanya perkiraan membaiknya pertumbuhan ekonomi A.S terjadi setelah penurunan kuartal pertama lalu, dan suku bunga global dari Australia, London, memiliki peran atas kondisi yield obligasi global. Namun saham asia keseluruhan masih dalam fundamental yang solid, dengan pertumbuhan pendapatan.

Di Jepang: Pasar bound Jepang dan A.S terlihat stabil setelah pasar sham Tokyo menguat beberapa minggu ini, ujar Yasushi Hoshi, analis dari Daiwa Securities Co. Ltd. "ini merupakan perubahan yang tidak begitu berarti dimana pasar saham Jepang turun oleh kondisi pasar obligasi yang turut mengalami penurunan," ujar Hoshi, obligasi pemerintah mungkin di bawah 2 persen, dan merupakan indikasi bahwa suku bunga pinjaman membebani pembiayaan bagi perusahaan. Nikkei diperkirakan bergerak dalam range antara 17,700 hingga 18,200.

Di Korea: Bursa saham berrbalik setelah menguat dalam 15 pekan berturut, dimana para investor melakukan aksi ambil untung karena kekhawatiran terhadap kondisi teknikal. Kondisi faktor transaksi dalam negeri turut berpengaruh pada volume transaksi, dimana para investor terfokus pada laporan pendapatan kuartal dua bulan Juli. "terlihat sangat sulit bagi pasar untuk mengangkat kenaikanya, karena memang harga level tersebut sudah dianggap cukup tinggi," ujar Kim Jeong-hwan, analis pada Woori Investment dan Securities. "saat ini bukan merupakan rotasi untuk melakukan pembelian, dimana para investor, terutama investor kelembagaan, melihat indeks dalam performa yang kurang baik hingga bukan tidak mungkin memicu aksi jual.

Di Hong Kong: Saham Blue chips menyentuh angka tertingginya setelah keberhasilan saham China dalam kenaikanya. Walau pada hari Senin mendatang indeks akan turun karena data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, namun itu terlihat bersifat sementara, ujar Karl analis Thomson Securities. "arah perbalikan cukup solid jadi momentum terlihat baik. "indeks pada minggu depan bukan tidak mungkin mencoba angka 21,500." Sebelumnya index telah mencapai rekor tertingginya di angka 21,088.86 pada 15 May lalu.