Monday, March 26, 2007

Kasus Penipuan Investasi, SPI Gelapkan Uang Nasabah Rp 2 T

26/03/2007 03:02:40 WIB JAKARTA, Investor Daily
Praktik bank gelap dengan iming-iming keuntungan tinggi kembali menelan korban. Puluhan perwakilan nasabah dan karyawan PT Sarana Perdana Indoglobal (SPI), Minggu (25/3), melaporkan pasangan suami istri, Leo S dan Riva, ke Polda Metro Jaya. Pemilik perusahaan berkedok investasi itu diduga telah menggelapkan dana nasabah hingga Rp 2 triliun.
SPI bergerak di bidang jasa investasi dan valuta asing dengan kantor pusat di Gajah Mada Plaza, Jakarta Barat. Kepada para nasabah, perusahaan itu menawarkan imbal hasil 15% per tahun atau di atas rata-rata kupon surat utang negara (SUN) mencapai 10%, bunga SBI 9%, dan deposito 6-8%.
Perusahaan yang sudah beroperasi lebih dari tiga tahun itu memiliki kantor cabang di sejumlah kota besar, antara lain Semarang, Bandung, Surabaya, dan Medan. Kantor cabang di Bandung berlokasi di Jln Pasar Kaligi dengan menyewa tiga unit ruko.
Seorang staf pemasaran SPI yang enggan disebut identitasnya menduga Leo dan Riva telah kabur ke luar negeri sejak minggu lalu. “Uang nasabah yang dibawa kabur bisa mencapai Rp 2 triliun dan ribuan nasabah tertipu,” ujar dia kepada Investor Daily di Polda Metro Jaya, Minggu (25/3).
Petugas jaga Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya mengakui telah menerima laporan dugaan penipuan dan penggelapan uang di PT SPI. Petugas SPK telah membuat laporan itu dalam berita acara pemeriksaan (BAP) dan langsung diserahkan ke Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Laporan itu bernomor 1245/K/III/2007/SPK III tertanggal 25 Maret 2007.
Saksi pelapor adalah Dirut SPI Syafri bersama sejumlah nasabah dan beberapa kepala cabang SPI. “Karena saksi dari masing-masing pelapor dan nasabah cukup lengkap, kasusnya langsung ditangani oleh Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Jadi, sebaiknya Anda berkoordinasi dengan mereka,” ujar petugas yang enggan disebut namanya itu.
Sebelum melaporkan kasus tersebut ke Polda Metro Jaya, nasabah dan manajemen SPI bertemu di Restoran Golden Times, Sunter, Jakarta Utara. Lebih dari 100 orang nasabah menghadiri acara itu. Namun, para nasabah dan karyawan SPI enggan menjelaskan kasus itu secara rinci.
Bahkan, ketika Investor Daily memasuki ruang pelaporan SPK, seorang perempuan setengah baya meminta Investor Daily segera keluar. “Kami tidak mau kasusnya disebarluaskan kepada publik dan kami sudah meminta penyidik untuk merahasiakannya. Jadi, sebaiknya Anda keluar,” ujar dia.
Kasus SPI menambah panjang daftar penipuan dana nasabah berkedok investasi. Pada akhir 2006, kasus serupa menimpa sekitar 5.000 nasabah PT InterBanking Bisnis Terencana (Ibist). Perusahaan yang berkantor di Bandung dan Semarang itu menangguk dana Rp 224 miliar.
Memasuki 2007, sekitar 10.000 nasabah di Surabaya melaporkan PT Wahana Bersama Globalindo (WBG) yang diduga menggelapkan dana hingga Rp 3,5 triliun. WBG mengaku sebagai kepanjangan dari Dressel Investment Ltd yang menawarkan produk Strategic Portfolio Management Scheme (Sportmans) dan Global Markets Portfolio (GMP) dengan imbal hasil (yield) 24%-28% per tahun dan investasi minimum US$ 5,000 atau kelipatannya.
Sebelum Ibist dan WBG, ada kasus PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) dan PT Add Farm yang berkedok investasi penggarapan lahan agribisnis. Kedua perusahaan itu berhasil meraup dana Rp 1,1 triliun.

FOKUS PASAR PEKAN INI

Inflasi Merupakan Kunci Bagi Prospek Bunga Global
Menguatnya tekanan inflasi yang menjadi favorit Federal Reserve minggu ini akan melukai masalah pemangkasan bunga A.S, sementara di zona eropa pesatnya harga serta data sentimen akan memicu pembicaraan kenaikkan bunga selanjutnya. Para investor juga akan waspada merah terhadap putaran baru atas keengganan resiko dan volatilitas pasar setelah hampir sebulan perdagangan gelisah saat matauang dan obligasi setidaknya mengambil petunjuk dari pasar ekuiti, sehingga menekan fundamental ekonomi ke kursi belakang. Namun suasana pasar ini kemungkinan akan memantau rilisan Jumat depan yaitu personal consumption expenditure A.S untuk Pebruari, ukuran inflasi dari Fed. Tingginya inflasi bisa membuat ini lebih berat bagi Fed untuk menjaga mendorong perkemba- ngan pemotongan bunga dari 5.25 persen.

Pimpinan Fed Ben Bernanke akan menyoroti pemikiran bank sentral pada perjamuan siang di Washington hari Jumat. "Satu dari hal-hal terpenting untuk pasar adalah mencoba penanganan yang lebih baik pada tujuan kebijakan Fed," ujar kepala ekonom Bear Stearns, David Brown. "Ada potensi fluktuasi suku bunga bergantung pada pidato Fed dan rilisan PCE," tambahnya. Inflasi inti PCE diperkirakan turun ke 0.2 persen dari 0.3 persen di Januari. Sinyal atas melambatnya pertumbuhan A.S dapat muncul dari penjualan rumah baru hari Senin, data new orders dan durable goods hari Rabu dan angka revisi pertumbuhan GDP hari Kamis.

Kenaikkan Bunga Di Eropa
Melambatnya ekonomi terbesar dunia kemungkinan akan terserap ke dalam lemahnya permintaan untuk eksportir dan bisa memiliki konsekuensi di negara lain. Sentimen bisnis bulan Maret di zona eropa, khususnya indeks Ifo Jerman hari Selasa, akan dirasakan sebagai sinyal penurunan termasuk bagaimana perusahaan Eropa mengatasi tingginya bunga dan euro yang relatif kuat. "Bila Ifo kembali kuat, sesuai perkiraan kami, itu dapat memberi kepercayaan besar bahwa ECB akan menuju 4 % karena saat ini pasar tidak yakin sama sekali," kata Tim Drayson, ekonom global ABN AMRO.

Sepekan Saham Asia – Pasar Kemungkinan Kuat Setelah Rebound
Setelah sepekan didorong oleh tingkat kepercayaan yang melihat saham Cina daratan mencapai puncak baru, saham-saham Asia tampaknya melanjutkan kenaikannya di sesi mendatang, dengan tidak mengikutisertakan kekhawatiran baru pada ekonomi AS. Rangkaian data di Amerika Serikat, pasar utama Asia, dari New Home Sales untuk Pebruari sampai GDP kuartal keempat dan consumer sentiment Maret akan menjadi fokus dalam minggu ini. Di Hong Kong, pendapatan perusahaan akan menjadi perhatian dengan CNOOC Ltd., perusaham minyak dan gas utama Cina Unicom Ltd, diantaranya menjadi perhatian utama yang akan merilis laporan.

"Sementara saham-saham telah mengalami perbalikan arah yang besar dari penurunan masa koreksi, masih ada resiko gejolak jangka pendek di depan," kata Shane Oliver, kepala strategi investasi berbasis di Sydney di AMP Capital Investors. Ketidakpastian pertumbuhan AS dan global kemung- kinan untuk sementara masih membayangi dan krisis pasar hipotek AS terus belanjut, katanya. Saham utama MSCI di Asia Pasifik naik sekitar 3 %, didorong penyataan dari The Fed, yang dirasa investor kurang menggigit dibandingkan sebelumnya. Pasar mengukur hanya 2 % perubahan dari rekor tinggi pada 27 Peb dan kira-kira 5 persen di atas level rendahnya pada 5 Maret, setelah aksi jual besar-besaran pada saham Cina daratan pada 27 Peb menimbulam gejolak pada pasar global.

Di Jepang : Indeks Nikkei diperkirakan tetap menjaga pemulihan setelah mencatat level tinggi tiga tahun di hari Jumat, karena investor merubah fokus mereka dari masalah subprime hipotek AS ke peningkatanan pendapatan korporat menjelang penutupan buku di Maret. Tertahannya rebound yen terhadap dollar juga mengurangi kecemasan pada penguata valuta yang kemungkinan menekan eksportir Jepang, mendukung harga saham.

Namun kenaikan akan terbatas, karena investor enggan membeli saham secara aktif sebelum awal tahun bisnis di April. Rangkaian data ekonomi, termasuk U.S. home sales dan produksi industri Jepang, kemungkinan juga menambah kekhawatiran investor. "Pasar keluar dari bentuk koreksi, dan sentimen investor kemungkinan meningkat secara gradual," kata Kenji Kobata, direktur managing di departemen riset Ace Securities. Indeks Nikkei kemungkinan bergerak antara 17,300-17,700 minggu depan, katanya.

Di Korea : Saham-saham kemungkinan mencoba rekor 1,471.04 poin disentuh pada 23 Peb karena resiko besar yang menggoncang pasar global sebelumnya bulan ini, mulai berkurang, dan investor melihat aksi beli pada sektor seperti perbankan dan pembuat baja diperkirakan mencatat laba yang solid. Akan tetapi, perdagangan kemungkinan volatile, dengan investor masih khawatir pada ekonomi AS dan memperhatikan perusahaan yang akan memulai laporan di April. "Karena pasar dalam tren naik, ada peluang menyentuh level tinggi sepanjang sejarah minggu depan. Namun seberapa cepat kita kondisi rebound, kemungkinan tidak terjadi kenaikan yang besar," kata Kim Hak-kyun, seorang analis di Korea Investment dan Sekuritas.

Di Hong Kong : Investor berharap meningkatnya pendapatan mengejutkan di hari-hari mendatang karena Hong Kong melanjutkan sesi laporan mengikuti hasil pendapatan sepekan yang mix. "Pasar kemungkinan terus digerakkan oleh pendapatan," kata Andy Lam, direktur asosiasi di Harris Fraser (International). "Hasil laporan blue chip sesuai perkiraan, namun saham relasi Cina naik lebih besar. Saya memperkirakan tren berlanjut."

Peluang Potong Bunga Fed 30 Persen, Turun Dari 50 Persen Setelah Fed
Dollar bergerak stabil terhadap euro dan yen, menjaga penguatan sesi sebelumnya karena penilaian Fed kemungkinan menjaga suku bunga untuk sementara. Investor melihat perubahan sebagai sinyal bahwa pemotongan bunga kemungkinan sudah dekat, jual dollar terhadap mata uang utama dan mendorong mata uang dollar ke level rendahnya terhadap euro. Namun mereka segera menimbang bahwa Fed kemungkinan tidak terburu-buru untuk memangkas bunga dan dollar kemungkinan jenuh jual, karena bank sentral AS juga menyatakan kembali inflasi masih menjadi perhatian utama.
"Fed mengubah pernyataan bias menjadi netral, hanya itu," kata Nobuo Ibaraki, manajer forex di Nomura Trust dan Banking. "Pernyataan tidak berarti menunjukkan pemotongan bunga, sedangkan menyebutkan kekhawatiran inflasi." Futures suku bunga jangka pendek mengantisipasi 30 persen peluang pemotongan bunga akhir Juni, turun kira-kira 50 persen setelah penyataan Fed hari Rabu. Trader mengatakan beberapa dealer membukukan laba pada euro setelah mata uang tunggal ini pulih kira-kira tiga perempat poin dari pelemahan tajam yang dibuat di tengah investor yang menghindari aset beresiko tiga pekan lalu. Aksi jual besar-besaran pada saham global mendorong investor memangkas aset beresiko, mendorong aksi beli agresif yen terhadap euro dan mata uang lainnya.

Monday, March 19, 2007

FOKUS PASAR SEPEKAN

Fokus Tertuju Pada Pasar Perumahan A.S Dan Fed
Kekhawatiran seputar sektor pegadaian A.S akan menajamkan fokus data perumahan minggu ini akibat para investor menilai ada pelepasan resiko, sementara pertemuan kebijakan Federal Reserve akan dipantau sebagai sinyal atas berubahnya prasangka. Sementara Fed diperkirakan luas akan menahan bunga pinjaman pada 5.25 persen di hari Rabu, pasar akan mengkaji pernyataan pasca-pertemuan guna melihat bagaimana para pembuat kebijakan menilai ruang lingkup ekonomi dan apakah pemangkasan suku bunga telah disiapkan tahun ini. Masalah di sektor pasar pegadaian subprime A.S, yang berkecimpung dalam pinjaman ke masyarakat dengan sejarah kredit buruk, telah memicu kekuatiran atas krisis kredit di ekonomi terbesar dunia ini, sehingga mendorong investor untuk mengurangi strategi dagang yang beresiko.

Fitur perumahan A.S yang akan dirilis Senin akan menetapkan sikap seraya investor mengukur sehatnya pasar perumahan. "Pasar terlihat sangat fokus pada semua data perumahan guna melihat apakah ada efek penularan yang mengalir ke dalam ekonomi," ujar David Brown, kepala ekonom Eropa pada Bear Stearns. Para ekonom yang dijajak Reuters memperkirakan penjualan rumah A.S melambat menjadi 6.3 juta-unit di angka tahunan bulan Pebruari dari 6.46 juta sebelumnya. Data perumahan lain yang akan dirilis minggu ini termasuk data housing starts bulan Pebruari hari Selasa dan existing homes sales hari Jumat. Di UK, para investor akan fokus pada pidato anggaran di hari Rabu dengan menteri keuangan Inggris Gordon Brown diperkirakan tetap bullish untuk ekonomi.

Minutes (Ulasan Singkat) BOE
Mereka juga akan mengkaji minutes di hari Rabu dari pertemuan kebijakan moneter Bank of England tangggal 8 Maret sebagai petunjuk peluang dan waktu atas kenaikkan suku bunga. Fitur CPI yang akan dirilis Selasa juga akan memberi sejumlah gambaran apakah kenaikkan jangka-pendek ke 5.5 persen adalah mungkin. "Dalam pandangan kami, ringkihnya retail sales dan melambatnya inflasi akan mengurangi tajam probabilitas dari kenaikkan April," ujar Commerzbank Corporates and Markets dalam catatan riset. Bank Jepang akan umumkan keputusan suku bunga-nya di hari Selasa dengan bunga diperkirakan kembali ditahan pada 0.5 persen.

Para investor juga waspada dengan adanya petunjuk kapan suku bunga Eropa dapat naik dari saat ini 3.75 persen. Mereka akan mencermati komentar dari Presiden Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet, yang akan memberi ceramah pada majelis ekonomi dan moneter komite Parlemen Eropa di hari Rabu, dan memantau pernyataan dari anggota dewan ECB diikuti pertemuan dewan gubernur hari Kamis. "Lemahnya pembayaran bonus musim dingin bulan Desember dan lambatnya inflasi inti CPI meneguhkan bahwa BoJ akan bersabar dalam menaikkan bunga," menurut catatan HSBC.

Sepekan Saham Asia – Masih Goyang, Fokus Pada Pertemuan Fed
Pergerakan bursa saham Asia akan terfokus pada pertumbuhan ekonomi A.S yang mengalami kekhawatiran atas kondisi sektor agunan, disamping itu para investor juga akan mengamati kebijakan tingkat suku bunga dalam pertemuan bank sentral A.S mendatang. Sementara di sisi lain kebijakan tingkat suku bunga akan diumumkan hari Selasa dan Rabu, namun sejauh ini diperkirkan tidak akan terjadi perubahan kebijakan moneter. Fokus atas pertumbuhan ekonomi dan adanya kekhawatiran atas timbulnya masalah terhadap sektor mortgage membuat the Fed diperkirakan akan memangkas suku bunganya pada quarter ketiga tahun ini, berdasarkan survey Reuters. Analis dari ABN AMRO Mun Hon Tham mengungkapkan penurunan yang terjadi pada pasar saham terlihat terbatas, hal ini lebih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang dalam kenyatannya tidak setajam yang kita bayangkan penurunanya dan bahkan mungkin berpotensi rebound pertengahan tahun 2007.

Di Jepang: Pasar saham terlihat mulai mengalami kenaikan dalam minggu ini, hal ini lebih diakibatkan kondisi ekonomi domestic yang membaik. "pasar saham bergantung pada permintaan domestic namun demikian para investor juga akan terfokus pada pertumbuhan ekonomi U.S. dan mata uang dollar," ujar Shinji Igarashi, manager pada Chuo Securities. Nikkei Nikkei diperkirakan akan bergerak dalam range antara 16,500 dan 17,300.

Di Korea: Pasar saham terlihat masih dalam tekanan, pasar masih terfokus pada pertumbuhan ekonomi A.S dan prospek kebijakan suku bunga kedepan dari bank sentral A.S. "Pasar terlihat tidak akan mengalihkan fokus mereka pada kekhawatiran atas sektor mortgage A.S, dan mereka akan secara detail mengamati kebijakan bank sentral dalam pertemuanya," ujar Kim Joong-hyun, analis dari Goodmorning Shinhan Securities. "Pergerakan saham Korea selatan terlihat banyak dipengaruhi oleh pergerakan saham A.S sementara sektor baja dan industri permesinan masih terlihat kuat namun memberi dampak terbatas dalam kenaikanya."

Di Hong Kong: Para investor akan terfokus ke laporan pendapatan atas beberapa perusahaan seperti China Mobile, yang kemudian dilanjutkan oleh beberapa indikator ekonomi A.S dan penerbitan beberapa saham baru di pasar lokal. "Secara keseluruhan kami masih mengamati pasar regional," ujar Steven Leung, direktur UOB Kay Hian Holdings. China's Intime Department Store (Group) akan mulai di transaksikan sahamnya hari selasa, sementara China Agri-Industries Holdings, yang menjalankan invetasinya di sektor biofuel dan biokimia ditahun 2006 lalu, serta COFCO Int’l Ltd., akan memulai transaksinya hari Rabu.

UBS – Reli Jangka Panjang Euro Terhadap Dollar Hampir Berakhir
UBS AG mengatakan reli euro selama lima tahun terhadap dollar kemungkinan memuncak karena defisit perdagangan di negara ekonomi terbesar dunia mulai mengurangi tekanannya terhadap mata uang AS. Reli jangka panjang “euro” “sedang mendekati akhir” menurut Mansoor Mohi-Uddin, kepala global strategi valutas untuk Zurich-based UBS. ``Resiko dan Reward saat ini lebih menyukai jual'' euro. UBS, perbankan terbesar, mengatakan pembelian euro dari bank sentral juga tidak agresif karena mereka mendiversifikasi cadangan devisa asing.

Defisit perdagangan AS menyempit di Januari menjadi $59.1 miliar, laporan Departemen Perdaga- ngan, tanggal 9 Maret. Turun dari rekor $68.9 miliar di Agustus. Menyempitnya defisit perdagangan mengurangi keluarnya currency. Citigroup Inc., Bank terbesar AS, memangkas perkiraan kemarin menenai seberapa besar euro akan melemah dalam tiga bulan, dengan menjaga perkiraan mata uang Eropa akan melemah ke $1.24 dalah satu tahuan. Euro akan melemah ke $1.30 dalam satu bulan dan $1.28 dalam tiga bulan, kata Citigroup. Bank berbasis di New York memperkirakan sebelumnya euro akan melemah ke $1.28 dalam satu bulan dan $1.26 dalam tiga bulan. Citigroup menurunkan prediksinya pada penguatan dollar karena investor memperkirakan Fed akan memangkas bunga pinjaman untuk mendorong ekonomi. ``Pesimisme ekonomi kemungkinan besar berbalik'' dan mengirim membuat ``memperbarui support'' terhadap dollar, strategi valuta Citi greoup Stege saywll di London dan Todd Elmer di New York.

Friday, March 16, 2007

Uang Dibawa Lari Presiden Direktur, Awas! Perusahaan Valas Menipu

Diambil dari Surya Online Wednesday, 14 March 2007
Surabaya-Surya
Daftar merah bisnis investasi semakin panjang. PT Fortune Channel Futures (FCF), sebuah perusahaan pialang valuta asing (valas) diduga menipu nasabahnya. Tak tanggung-tanggung, jumlah uang nasabah yang dibawa lari khususnya di Surabaya kurang lebih Rp 18 juta dolar AS (Rp 1,62 triliun dengan asumsi 1 dolar Rp 9.000).
Sementara di Jakarta, informasi yang diperoleh Surya diperkirakan mencapai Rp 22 juta dolar AS (1,98 triliun). Perusahaan itu bermasalah karena Presiden Direkturnya, Yosep Cho, menggelapkan seluruh uang nasabah. Para nasabah di Jakarta dan Surabaya ramai-ramai mendatangi kantor PT FCF untuk menarik uangnya.
Di Surabaya, kantor PT FCF di Menara Mandiri lantai 12 Jl Basuki Rachmat, sejak Minggu (11/3) sudah kebanjiran nasabah. Senin (12/3), aktivitas di kantor gedung pusat bisnis investasi itu diliburkan karena tidak ada kejelasan soal uang nasabah.
Menurut Farid, 26, marketing PT FCF, Selasa (13/3) kepada Surya menyatakan, di kantor hanya ada asisten manajer melakukan rapat membicarakan perihal penggelapan uang nasabah. “Sejak Jumat (9/3) lalu, marketing yang tidak punya nasabah diliburkan sampai batas waktu tak ditentukan. Sementara marketing yang masih punya nasabah tetap masuk seperti biasa untuk memberi penjelasan kepada nasabah perihal situasi yang sedang dialami PT Fortune,” terang Farid.
Kasus penggelapan uang nasabah itu telah diumumkan di depan sekitar 30 marketing PT FCF, Jumat lalu. Saat itu, kata Farid, salah seorang asisten manajer PT FCF di Surabaya, mengumpulkan para marketing menyampaikan kalau separo dari uang nasabah telah dibawa kabur. “Kami diminta menunggu kepastian, tetapi sampai saat ini belum ada penjelasan. Beberapa kali saya masuk kantor, pegawai kantor menyampaikan kalau masih diliburkan,” katanya.
Kasus penggelapan PT FCF, memang belum seramai kasus penipuan bisnis investasi Wahana Bersama Globalindo (WBG) di Wisma BII lantai 11 Jl Pemuda, karena belum semua nasabah mengetahui uangnya digelapkan. Lagi pula, para karyawan PT FCF berusaha menyelesaikan kasus itu secara internal.
PT FCF adalah perusahaan pialang yang menawarkan bisnis jual beli valas. Sistem bisnis valas ada dua, yakni, full authority, dan bargaining. Full authority, nasabah memasrahkan seluruh uangnya kepada pialang atau PT FCF bermain di pasar. Sementara sistem bargaining, nasabah ikut bermain jual beli uang asing di pasar.
Untuk sekali trading atau transaksi, untung maupun rugi pihak pialang yakni PT FCF memperoleh bagian sebesar 50 dolar AS. Di PT FCF, penanaman modal awal setiap nasabah minimal Rp 100 juta. Para nasabah PT FCF, umumnya tergiur keuntungan yang diperoleh dari selisih kurs mata uang asing dengan rupiah. Jika kurs dolar sedang turun, pialang membeli dolar sebanyak-banyaknya. Jika kurs dolar kembali naik, maka uang tersebut dijual lagi ke pasar. Selisih dari kurs penjualan dengan kurs saat pembelian itu sebagai keuntungan nasabah.
Ada enam mata uang asing yang dijualbelikan, yakni, mata uang Amerika Serikat (dolar) dan Australia (dolar), Swiss (Franc), Inggris (Pound Sterling), Jepang (Yen), dan mata uang Euro.Surya yang berusaha mencari konfirmasi dari pihak manajemen PT FCF, menmui kesulitan mendapat penjelasan. Ketika datang ke kantor PT FCF, tiga resepsionis perempuan berpakaian biru-biru, menyatakan bahwa tidak ada satu pun dari pihak PT FCF yang bisa ditemui. Mereka hanya menegaskan kalau aktivitas FCF masih berjalan. st24

Monday, March 12, 2007

FOKUS MINGGU INI

Inflasi A.S, Data Ritel Menjadi Sorotan
Data inflasi Pebruari A.S dan retail sales akan mendominasi pasar minggu ini seiring kekuatiran investor memudar tajam bahwa ekonomi terbesar dunia berada pada pijakan kuat setelah lemahnya data belakangan ini. Negara Swiss dan Norwegia diperkirakan menaikkan suku bunga minggu ini sementara para petinggi bank sentral dari negara industri dan berkembang akan bertemu di Basel, Swiss untuk memberi ulasan regular pada ekonomi global. Pasar saham dunia stabil pekan lalu setelah terjadi aksi jual, dipicu oleh kekuatiran seputar kemungkinan resesi di A.S, tajamnya penurunan saham Cina serta ketakutan atas berkurangnya carry trades yen yang beresiko. Para investor giat untuk menaksir data A.S, khususnya harga konsumen, guna melihat apakah Federal Reserve perlu untuk memangkas suku bunga, sesuai penilaian di pasar suku bunga.

Namun ekspektasi berkurang setelah laporan tenaga kerja A.S. hari Jumat – satu dari catatan awal terbaiknya atas sehatnya dan petunjuk arah dari ekonomi A.S – menunjukkan bahwa ekonomi bertambah 97,000 pekerja di Pebruari, angka terkecil lebih dari dua tahun. "Secara kritis pasar akan memantau sejumlah ketenangan bahwa pertumbuhan A.S berada di pijakan kuat, sehingga ini akan mencari indikasi dari retail sales dan angka produksi industri," ungkap kepala ekonom Eropa Bear Stearns, David Brown. Petinggi Fed mengatakan mereka memperkirakan inflasi akan moderat dari level-level yang mereka yakini naik, namun ditambahkan bahwa mereka siap untuk menaikkan suku bunga guna menurunkan tekanan inflasi bila diperlukan.

Fokus Ke Bisnis Jerman, Data Inggris
Di zona eropa, pasar akan memantau cermat survei terakhir dari indeks sentimen bisnis ZEW Jerman di ekonomi terbesar kawasan untuk konfirmasi apakah lonjakan akan berlanjut di Pebruari. Reaksi pasar belakangan ini juga akan berdampak pada pemunculan survey analis keuangan ZEW. Catatan final dari data inflasi euro zone bulan Pebruari juga dirilis minggu ini dengan analis melihat adanyakenaikkan di dalam core inflasi yang akan menjadi dasar persepsi European Central Bank (ECB) atas pengetatan suku bunga.

Kamis lalu, ECB menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 3.75 persen sesuai perkiraan namun menunjukkan bahwa bunga mungkin mendekati akhir. Namun investor menilai ada lagi kenaikan bunga setelah Presiden ECB Jean-Claude Trichet menyebutkan kebijakan moneter "berada di sisi akomodatif". "Kendati adanya volatilitas di pasar uang, kami rasa data yang amat negatif perlu untuk menjaga agar bank sentral tidak menaikkan ke 4 persen," penuturan analis UniCredit, Aurelio Maccario dan Marco Valli dalam sebuah catatan.

ECB akan merilis bulletin bulanannya pekan ini namun ini diperkirakan akan menambah sedikit komentar Trichet di hari Kamis. Trichet akan mengadakan konferensi berita di hari Senin setelah pertemuan petinggi penting bank sentral pada Bank for International Settlements. Pejabat lain ECB termasuk Axel Weber dan Lorenzo Bini Smaghi juga akan pidato minggu ini. Keduanya Swiss National Bank dan Norges Bank diperkirakan akan menaikkan bunga 25 basis poin di hari Kamis.
Sepekan Saham Asia – Pasar Kemungkinan Tetap Mengalami Volatilitas
Langkah pasar saham Asia yang bergerak bolak-balik menunggu investor karena kekhawatiran pada kelanjutan kenaikan pasar global yang terus membayangi kepercayaan. Yen akhir-akhir ini melemah, mengurangi kekhawatiran investor kemungkinan meningkatkan pelepasan carry trades, dimana mereka menjual mata uang dengan yield rendah seperti yen untuk membeli yield lebih tinggi – dan seringkali aset yang lebih beresiko. Rebound selama empat hari juga menolong saham Asia Pasifik MSCI pulih setengah dari kerugian selama kekacauan pasar global yang dipicu penurunan terbesar dalam satu decade untuk saham Cina pada 27 Feb.

Sementara prospek jangka panjang masih positip, dengan pertumbuhan global yang sehat dan pendapatan korporat terangkat, analis mengatakan pasar masih belum keluar dari jalurnya. "Dalam tiga minggu sampai empat minggu kedepan, kami kemungkinan memperkirakan volatilitas untuk masih tinggi dan volume perdagangan tetap tinggi," kata Jing Ulrich, direktur managing dan Kepala Saham Cina di JPMorgan. "Koreksi kemungkinan lebih dari hitungan minggu, namun Saya kira pasar tidak akan melanjutkan penurunan setiap per hari. Karena valuasi masih cukup menarik, akan ada pembeli yang masuk pasar." Pasar akan diuji lebih awal minggu ini karena investor di Asia menanggapi pengaruh data non payrolls 9 Maret.

Di Jepang : Saham kemungkinan menciptakan gain datar pada minggu mendatang, dan kemungkinan revisi naik untuk gross domestic product (GDP) Oktober kemungkinan mendukung pasar. Yumi Nishimura, manager di seksi penasihat invetasi di Daiwa Securities SMBC Co. Ltd., mengatakan pasar akan sangat memperhatikan revisi GDP. Level mata uang kemungkinan juga menjadi fokus, katanya. "Jika revisi GDP seperti yang diperkirakan, pasar kemungkinan masih kuat," katanya. "Kecuali nilai tukar valuta bergerak tajam, investor akan memiliki cukup waktu untuk melihat angka pendapatan dan membuat keputusan."

Di Korea : Saham Seoul kemungkinan menghadapi periode volatilitas, dengan investor terus bereaksi pada pasar global seiring dengan penurunan akhir-akhir ini dan dengan persepsi prospek ekonomi AS kemungkinan berperan. Meskipun analis memperhatikan hal terburuk dari aksi jual besar-besaran yang tampaknya berakhir, saham Korea Selatan kemungkinan sulit untuk kembali ke level rekornya yang mereka raih di akhir Pebruari. "Pasar mencetak gain beberapa hari namun masih ada kekhawatiran kondisi gain yang terlalu kuat," kata Park Suk-hyun, analis di Kyobo Securities. "Beberapa resiko seperti pasar Cina telah pudar, namun masih ada kekhawatiran pada ekonomi AS."

Di Hong Kong : Investor akan tetap memperhatikan mata uang Jepang, setelah keluarnya carry trades yen dianggap penyebab volatilitas akhir-akhir ini pada saham gobal. Yen melemah pada akhir pekan, implikasi lepasnya carry trade kemungkinan melambat. "Setelah fluktuasi selama dua pekan lalu, pasar akan bergerak konsolidasi," kata Linus Yip, strategist di First Shanghai Securities, yang menambahkan bahwa blue chip kemungkinan tertahan antara 18,800 dan 19,400 poin.

Bunga Lebih Tinggi Tidak Akan Menghambat Carry Trade
Yen kemungkinan melemah lagi sebesar 3 persen terhadap dollar sampai Juni karena kenaikan suku bunga Jepang tidak sanggup menghentikan investor yang meminjam dana untuk membeli aset dengan yield yang lebih tinggi, kata Nomura Securities Co. Mata uang kemungkinan melemah ke 124 per dollar karena apa yang sebut carry trade benar-benar eksis, kata Daisaku Ueno, diakui sebagai analis terbaik oleh ``majalah Weekly Economist Jepang'' di Oktober. Yen kemarin melemah terhadap 16 mata uang teraktif setelah bank sentral menaikkan bunga seperempat poin menjadi 0.5 persen dan mengatakan kenaikan lanjutannya akan bertahap. Suku bunga Jepang terendah di negara maju, dengan bunga pinjaman di Swiss hampir 2 persen, pemodal lain untuk carry trades.